Rabu, 16 Mei 2012

Sejarah Kelahiran Dinasti Abbasyiah Dan Masa Keemasannya


BAB II
PEMBAHASAN

A.          Kelahiran Dinasti Abbasiyah dan Masa Keemasannya
Sebelum Dinasti Abbasiyah memerintah kekhilafahan Islam, khilafah Islam dipimpin oleh Dinasti Umayyah.[1] Awal kemunduran Dinasti Umayyah disebabkan oleh beberapa masalah yaitu sebagai berikut:
1.      Figur khalifah lemah;
2.      Hak istimewa bangsa Arab suriah;
3.      Pemerintahan yang tidak demokrasi dan korup.
Semua keadaan di atas menjadi permasalahan yang sulit dipecahkan oleh pemerintahan Dinasti Umayyah. Sekitar awal abad ke-8 (720 M), kebencian terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah telah tersebar luas. Kelompok-kelompok yang merasa tidak puas bermunculan. Kelompok-kelompok itu adalah
1.      Kelompok muslim non- Arab (mawali) yang memprotes kedudukan mereka sebagai warga kelas dua di bawah muslim Arab;
2.      Kelompok khawarij dan syiah yang menganggap Dinasti Umayyah sebagai perampas Khalifah;
3.      Kelompok muslim Arab di Mekah, Madinah, dan Iraq yang merasa sakit hati atas status istimewa penduduk Suriah;
4.      Kelompok muslim yang saleh, baik Arab maupun non-Arab yang memandang keluarga Dinasti Umayyah telah bergaya hidup mewah dan jauh dari jalan hidup Islammi.
Kelompok-kelompok tersebut membentuk suatu  kekuatan gabungan yang dikoordinasi oleh keturunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Untuk mencari dukungan masyarakat luas, kelompok Dinasti Abbasiyah melakukan  propaganda yang mereka sebut sebagai usaha dakwah. Gerakan dakwah dimulai ketika Umar bin Abdul Aziz berkuasa (717-720 M). Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang adil. Ketentraman dan kestabilan Negara memberi kesempatan kepada Dinasti Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan kegiatanya di al-Humaymah.[2]
Gerakan dakwah tersebut, pada waktu itu dipimpin oleh Ali bin Abdullah bin Abbas. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Muhammad. Ia memperluas gerakan Dinasti Abbasiyah dan menetapkan tiga Kota sebagai pusat gerakan. Ketiga Kota tersebut adalah al-Humaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, Kufah sebagai Kota penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis. Muhammad meninggal pada tahun 743 M dan digantikan oleh anaknya Ibrahim al-Imam. Ia kemudian menunjuk seorang pemuda Khurasan sebagai panglima perangnya, yaitu Abu Muslim al-Khurasani.
Abu Muslim al-Khurasani adalah seorang pemuda yang menampakkan bakat kepemimpinan dan keberanian yang luar biasa. Padahal, pada waktu ditunjuk sebagai panglima perang oleh Ibrahim al-Imam, Abu Muslim al-Khurasani masih berusia 19 tahun. Ia mencapai sukses besar di Khurasan. Ia berhasil menarik simpati sebagian besar penduduk. Pernah dalam sehari, ia berhasil mengumpulkan penduduk dari sekitar 60 desa di sekitar Merv. Banyak tuan tanah di Persia (dihkan) yang mengikutinya. Ia berkampanye untuk memunculkan rasa kebersamaan di antara golongan Alawiyyin (Bani Ali), golongan Syiah, dan orang-orang Persia untuk menentang Dinasti Umayyah yang telah menindas mereka. Abu Muslim al-Khurasani juga mengajak mereka untuk bekerja sama dengan gerakan Dinasti Abbasiyah untuk mengembalikan kekhalifahan kepada Dinasti Hasyim, baik keturunan Abbas bin Abdul Muthalib maupun keturunan Ali bin Abi thalib.
Sebelum Abu Muslim al-Khurasani diangkat sebagai panglima perang, gerakan dakwah Dinasti Abbasiyah dilakukan secara diam-diam. Para dai dikirim keberbagai penjuru wilayah Islam dengan cara menyamar sebagai pedagang atau jamaah haji. Hal itu dilakukan karena belum berani melawan Dinasti Umayyah secara terang-terangan. Setelah Abu Muslim al-Khurasani diangkat sebagai panglima perang, Ibrahim al-Imam mendorong Abu Muslim al-Khurasani untuk merebut Khurasan dan menyingkirkan orang-orang Arab yang mendukung Dinasti Umayyah pada tahun 747 M. Rencana ini diketahui oleh penguasa Dinasti Umayyah. Maka Ibrahim al-Imam ditangkap dan dihikum mati oleh khalifah Marwan II. Kepemimpinan dakwah Dinasti Abassiyah kemudian dipegang oleh saudaranya, Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, yang dikenal sebagai Abu as-Saffah. Ia tetap memberi kepercayaan kepada Abu Muslim al-Khurasani untuk menjadi panglima perangnya, dan memimpin perlawanan di Khurasan. Sementara itu, Abu Ja’far al-Mansur, Isa bin Musa bin Muhammad, dan Abdullah bin Ali memimpin gerakan di Kufah, Damaskus, Palestina, Yordania, dan daerah bagian barat wilayah Dinasti Umayyah.
Abu Muslim al-Khurasani segera memulai gerakan. Dengan  pandai, ia memanfaatkan pertentangan antara suku Arab Qaisy dan suku Arab Yamani yang sudah berlangsung sejak zaman Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pada masa itu, orang-orang Yaman mendapat dukungan yang baik di Khurasan. Hal itu disebabkan Gubernur Khurasan saat itu dari suku Arab Yamani, yaitu As’ad Abdullah al-Qasri. Sementara itu orang-orang suku Arab Qaisy disisihkan dari pemerintahan sehingga mereka tidak menyukai orang-orang Yaman. Sebaliknya, ketika Gubernur Khurasan dijabat oleh orang-orang Arab Qaisy, orang-orang Yaman disingkirkan.
Pada waktu Abu Muslim al-Khurasani memulai gerakanya, Gubernur Khurasan dijabat oleh Nasr bin Sayyar yang berasal dari suku Arab Qaisy. Abu Muslim al-Khurasani kenudian mendekati al-Kirmani, pemimpin Yamani di Khurasan. Dengan siasat adu domba, Gubernur Nasr bin Sayyar dapat digulingkan dan berhasil dikalahkan. Dengan bantuan orang Yaman pula, Abu Muslim al-Khurasani berhasil menduduki Kota Merv dan Nisabur.
Sementara itu, tentara Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Kahbata, seorang jenderal Abu Muslim al-Khurasani, maju kesebelah barat. Ia didampingi oleh Khalid bin Barmak, pendiri wangsat Barmakid. Mereka menyeberangi Sungai Eufrat dan sampai ke medan Karbala, tempat Husein bin Ali gugur dalam peperangan. Pertempuran dahsyatpun saat itu berkobar. Gubernur Dinasti Umayah di Irak bernama Yazid berhasil dikalahkan. Namun, Kahtaba gugur dalam pertempuran itu. Komando diambil alih oleh Hasan bin Kahtaba. Tentara Dinasti Umayyah akhirnya berhasil menguasai Kufah.
Di bagian timur, tentara Dinasti Abbasiyah terus bergerak maju. Pada tahun 749 M, putra khalifah Marwan II dikalahkan Abu Ayun, seorang panglima perang Dinasti Abbasiyah. Khalifah Marwan II akhirnya memimpin langsung usaha terakhir untuk mempertahankan Dinastinya. Ia mengerahkan 120000 tentaranya dari menyeberangi Sungai Trigis serta menuju Zab Hulu atau Zab Besar. Tentara Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Ali. Tentara Dinasti Umayyah berhasil dikalahkan. Marwan II melarikan diri dan Damaskus pun jatuh ke tangan Bani Abbasiyah. Marwan II diburu dari satu tempat ke tempat lain. Ia ditemukan di Mesir dan dibunuh di sana.
Abu Abbas as-Saffah kemudian dibaiat sebagai khalifah di Masjid Kufah pada tahun 130 H/750 M. Menurut para ahli sejarah, perpindahan kekhalifahan dari Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah lebih sekedar pergantian Dinasti. Kejadian itu merupakan Revolusi dalam sejarah Islam, yaitu suatu titik balik yang sama pentingya dengan Revolusi Prancis dan Revolusi Rusia dalam sejarah barat.
Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Berdirinya  pemerintahan ini dianggaap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh Bani Ali ( Alawiyun). Setelah  meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah saw. 
Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda, sebagai berikut[3]:
1.      Masa Abbbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya daulah Abbasiyah tahun 132 H (750 M) sampai meninggalnya Khalifah Al-Watsiq 232 H (847 M);
2.      Masa Abbbasiyah II, yaitu mulai Khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H (847 M) sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Bagdad tahun 334 H (946 M);
3.      Masa Abbbasiyah III, yaitu dari berdirinya daulah Buwaihiyah tahun 334 H (964 M) sampai masuknya kaum Seljuk ke Bagdad tahun 447 H (1055 M);
4.      Masa Abbbasiyah IV, yaitu masuknya orang-orang Seljuk ke Bagdad tahun 447 H (1055 M) sampai jatuhnya Bagdad ke tangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H (1258 M).

Masa Dinasti Abbasiyah, terutama masa-masa pertama Al-Mansur, Ar-Rasyid, dan Al-Makmun adalah masa-masa keemasan peradaban islam[4]. Para khalifah agung tersebut ingin agar negara mereka berdiri di atas fonndasi kokoh ilmu agama dan ilmu dunia. Sebuah negara tidak akan maju tanpa ilmu pengetahuan. Ilmu adalah asal amal saleh dan fondasi kehidupan yang baik. Untuk hal inilah, kita bisa mendapatkan seorang khalifah seperti Al-Manhsur yang sangat menaruh perhatian terhadap ilmu agama dan ilmu dunia sekaligus.[5]
Perhatian Al-Manshur terhadap agama tidak bisa diragukan lagi. Dia adalah salah seorang tokohnya. Dia pernah berkata kepada Imam Malik bin Anas, “Ketahuilah, bahwa dalam hal ini, antara kita tidak ada yang tersisah. Dan ketahuilah, bahwasanya aku sibuk oleh urusan negara. Oleh karena itu, aku ingin engkau menulis kitab. Untuk kemudian kitab tersebut disebarkan secara merata kepada masyarakat.” Lalu , mata berkata, “Ajarkanlah kepadaku menulis buku.”

B.          Peradaban dan Pemikiran yang Berkembang Pada Masa Dinasti Abbasiyah

Pemikiran yang berkembang pada masa dynasti Abbasiyah, pada awalnya adalah Syiah. Mereka beranggapan yang berhak meneruskan kepemimpinan Islam Rasulullah saw adalah kerabat-kerabat Nabi Muhammad saw.  
Artinya: Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu Termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)[626] di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[626] Maksudnya: yang Jadi dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan kerabat, bukan hubungan persaudaraan keagamaan sebagaimana yang terjadi antara muhajirin dan anshar pada permulaan Islam.

Dan  menganggap bahwa pembaiatan Ali sebagai khlaifah yang boleh diangkat dengan landasan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib pernah berkata: “Kemarilah, Aku akan membai’atmu  sebagai khalifah dan tidak seorang pun berseberangan denganmu. Landasan yang lain adalah pernyataan Dawud bin Ali (paman Abu Abbas as-Saffah pada saat pembaiatan as-Saffah: “Wahai para penduduk Kufah, tidak lah terdapat seorang pemimpin yang berhak kalian taati  setelah Rasulullah saw,  kecuali Ali bin Abi Thalib dan yang berdiri ditengah-tengah kalian hari ini yaitu as-Saffah.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa terdapat dua kelompok yang menghendaki terjadinya perubahan system pemerintahan dengan mengembalikan hak kepemimpinan kepada mereka yang lebih berhak secara wasiat, adalah kelompok syi’ah dan Bani Abbasiyah. Selian itu dapat pula di temukan bahwa beridirinya daulah atau Dinasti Abbasiyah berkat kegigihan kedua kelompok tersebut dalam mengumpulkan seluruh kelompok untuk melakukan revolusi besar-besaran terhadap pemerintahan Dinasti Umawiyyah yang diawali dari Khurasan dan Irak hingga ke Kufah yang pada akhirnya keluarga Bani Umayyah lari ke Magrib kemudian ke Andalusia dan kemudian mendirikan kembali Dinasti Umayyah disana untuk menandingi Dinasti Abbasiyah di Kufah.
Di masa dinasti Abbasiyah juga terdapat, pemikiran yang semakin kritis terhadap ilmu-ilmu pengetahuan. Hal itu ditunjukan oleh pembangunan sebuah perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, di dalamnya orang dapat membaca, menulis, dan berdiskusi.
Lalu di masa dinasti Abbasiyah pula empat mazhab fiqih[6] tumbuh dan berkembang. Imam Abu Hanifah (meninggal di Baghdad tahun 150 H/776 M) adalah pendiri Mazhab Hanafi. Imam Maliki bin Anas banyak menulis hadist dan pendiri Mazhab Maliki (wafat di Madinah Tahun 179 H/795 M). Muhammad bin Idris Ash-Syafi’I (wafat di Mesir tahun 204 H/819 M) adalah pendiri Mazhab Syafi’i. Ahad bin Hambal (wafat tahun 241 H/855 M).
Selain tentang Mazhab-mazhab fiqih masih ada lagi ilmu-ilmu yang berkembang di masa dinasti Umayyah:
1.      Ilmu Hadist
a.      Imam Bukhari (194-256 H), karyanya Shahih Al-Bukhari;
b.      Imam muslim (wafat 261 H), karyanya Shahih Muslim;
c.      Ibnu Majah, (wafat 824-887 H), karyanya Sunah Ibnu Majah;
d.      Abu Dawud, karyanya sunah Abu Dawud..
2.      Ilmu Kalam
a.      Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Muhammad, tokoh Asy’ariyah;
b.      Washil bin Atha, Abul huzail Al-Allaf
3.      Ilmu Astronomi
A.    Abu Mansur Al-Falaki (wafat 272 H), karyanya yang terkenal adalah Isbat Al-Ulum dan Hayat Al-Falak;
B.     Jabir Al-Batani (wafat 319 H), karyanya yang paling terkenal adalah penciptaan teropong bintang pertama dan kitab Ma’rifat Mathiil Buruj Baina Arbai Al-Falak;
C.     Raihan Al-Bairuni (wafat 440 H), keryanya adalah At-Tafhim Awal As-Sina At-Tanjim
Dengan berkembangnya ilmu di atas sudah sewajarnya kita berpendapat pasti system pemerintahan dan hokum saat itu sangatlah baik. Seperti contoh Khalifah Harun Ar-Rasyid adalah khalifah yang kuat tegas, adil, dan cinta dengan ilmu. Maka sangat wajar jika di masa khalifah tersebut ilmu bisa berkembang dengan pesat.

C.          Warisan-warisan Dari Dinasti Abbasiyah dan Penyebab Runtuhnya Pemerintahan Dinasti Abbasiyah

Warisan-warisan dari Dinasti Abbasiyah untuk dunia cukup banyak seperti sebagai berikut:
1.      Kota Baghdad dan istanah-istanahnya yang megah;
2.      Terkembangnya ilmu-ilmu yang semakin maju hingga sekarang;
3.      Masjid-masjid yang dibangun atas perintah khalifa-khalifah dinasti Abbasiyah;
4.      Dan buku-buku karya ilmuan pada masa dinasti Abbasiyah yang menjadi refrensi ilmuan jaman sekarang.
Penyebab runtuhnya dinasti Abbasiyah[7]:
1.      Perasaingan antar bangsa;
2.      Kemrosotan ekonomi;
3.      Konflik keagamaan;
4.      Perang salib;
5.      Serangan bangsa mongol.


  

SIMPULAN

  
Dari  penjealasan di atas bisa penulis simpulkan bahwa:
1.      Dinasti Abbasiyah memerintah  kekhilafahan Islam dikarenakan dinasti Umayyah sudah lemah pemerintahanya ;
2.      Dua  kelompok yang menghendaki terjadinya perubahan system pemerintahan dengan mengembalikan hak kepemimpinan kepada mereka yang lebih berhak secara wasiat, adalah kelompok syi’ah dan Bani Abbasiyah;
3.      Pemikiran yang berkembang pada masa dynasti Abbasiyah, pada awalnya adalah Syiah. Mereka beranggapan yang berhak meneruskan kepemimpinan Islam Rasulullah saw adalah kerabat-kerabat Nabi Muhammad saw ;
4.      Warisan dinasti Abbasiyah adalah kota Baghdad, bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya, terkembangnya ilmu-ilmu hingga sekarang, dan buku-buku yang dijadikan refrensi para ilmuan  barat maupun timur;
5.      Pentebab runtuhnya dinasti Abbasiyah adalah pertentangan antar bangsa, ekonomi lemah, perang salib dan serangan tentara mongol.






[1] Darsono, Tonggak Sejarah Kebudyaan Islam, (Surakarta: Tiga Serangkai, 2004), hlm.17.
[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.139.
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Kencana, 2003), hlm.50.
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.145.
[5] Yusuf Al-qardawi, Distorsi Sejarah Islam, (Jakarta: Pustaka Al-kaustar, 2003),hlm.104.
[6] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.147.
[7] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.155.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger