Social Icons

Pages

Rabu, 16 Mei 2012

hehe,,,,



Sejarah Kelahiran Dinasti Abbasyiah Dan Masa Keemasannya


BAB II
PEMBAHASAN

A.          Kelahiran Dinasti Abbasiyah dan Masa Keemasannya
Sebelum Dinasti Abbasiyah memerintah kekhilafahan Islam, khilafah Islam dipimpin oleh Dinasti Umayyah.[1] Awal kemunduran Dinasti Umayyah disebabkan oleh beberapa masalah yaitu sebagai berikut:
1.      Figur khalifah lemah;
2.      Hak istimewa bangsa Arab suriah;
3.      Pemerintahan yang tidak demokrasi dan korup.
Semua keadaan di atas menjadi permasalahan yang sulit dipecahkan oleh pemerintahan Dinasti Umayyah. Sekitar awal abad ke-8 (720 M), kebencian terhadap pemerintahan Dinasti Umayyah telah tersebar luas. Kelompok-kelompok yang merasa tidak puas bermunculan. Kelompok-kelompok itu adalah
1.      Kelompok muslim non- Arab (mawali) yang memprotes kedudukan mereka sebagai warga kelas dua di bawah muslim Arab;
2.      Kelompok khawarij dan syiah yang menganggap Dinasti Umayyah sebagai perampas Khalifah;
3.      Kelompok muslim Arab di Mekah, Madinah, dan Iraq yang merasa sakit hati atas status istimewa penduduk Suriah;
4.      Kelompok muslim yang saleh, baik Arab maupun non-Arab yang memandang keluarga Dinasti Umayyah telah bergaya hidup mewah dan jauh dari jalan hidup Islammi.
Kelompok-kelompok tersebut membentuk suatu  kekuatan gabungan yang dikoordinasi oleh keturunan al-Abbas, paman Nabi Muhammad saw. Untuk mencari dukungan masyarakat luas, kelompok Dinasti Abbasiyah melakukan  propaganda yang mereka sebut sebagai usaha dakwah. Gerakan dakwah dimulai ketika Umar bin Abdul Aziz berkuasa (717-720 M). Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang adil. Ketentraman dan kestabilan Negara memberi kesempatan kepada Dinasti Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan kegiatanya di al-Humaymah.[2]
Gerakan dakwah tersebut, pada waktu itu dipimpin oleh Ali bin Abdullah bin Abbas. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Muhammad. Ia memperluas gerakan Dinasti Abbasiyah dan menetapkan tiga Kota sebagai pusat gerakan. Ketiga Kota tersebut adalah al-Humaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, Kufah sebagai Kota penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis. Muhammad meninggal pada tahun 743 M dan digantikan oleh anaknya Ibrahim al-Imam. Ia kemudian menunjuk seorang pemuda Khurasan sebagai panglima perangnya, yaitu Abu Muslim al-Khurasani.
Abu Muslim al-Khurasani adalah seorang pemuda yang menampakkan bakat kepemimpinan dan keberanian yang luar biasa. Padahal, pada waktu ditunjuk sebagai panglima perang oleh Ibrahim al-Imam, Abu Muslim al-Khurasani masih berusia 19 tahun. Ia mencapai sukses besar di Khurasan. Ia berhasil menarik simpati sebagian besar penduduk. Pernah dalam sehari, ia berhasil mengumpulkan penduduk dari sekitar 60 desa di sekitar Merv. Banyak tuan tanah di Persia (dihkan) yang mengikutinya. Ia berkampanye untuk memunculkan rasa kebersamaan di antara golongan Alawiyyin (Bani Ali), golongan Syiah, dan orang-orang Persia untuk menentang Dinasti Umayyah yang telah menindas mereka. Abu Muslim al-Khurasani juga mengajak mereka untuk bekerja sama dengan gerakan Dinasti Abbasiyah untuk mengembalikan kekhalifahan kepada Dinasti Hasyim, baik keturunan Abbas bin Abdul Muthalib maupun keturunan Ali bin Abi thalib.
Sebelum Abu Muslim al-Khurasani diangkat sebagai panglima perang, gerakan dakwah Dinasti Abbasiyah dilakukan secara diam-diam. Para dai dikirim keberbagai penjuru wilayah Islam dengan cara menyamar sebagai pedagang atau jamaah haji. Hal itu dilakukan karena belum berani melawan Dinasti Umayyah secara terang-terangan. Setelah Abu Muslim al-Khurasani diangkat sebagai panglima perang, Ibrahim al-Imam mendorong Abu Muslim al-Khurasani untuk merebut Khurasan dan menyingkirkan orang-orang Arab yang mendukung Dinasti Umayyah pada tahun 747 M. Rencana ini diketahui oleh penguasa Dinasti Umayyah. Maka Ibrahim al-Imam ditangkap dan dihikum mati oleh khalifah Marwan II. Kepemimpinan dakwah Dinasti Abassiyah kemudian dipegang oleh saudaranya, Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, yang dikenal sebagai Abu as-Saffah. Ia tetap memberi kepercayaan kepada Abu Muslim al-Khurasani untuk menjadi panglima perangnya, dan memimpin perlawanan di Khurasan. Sementara itu, Abu Ja’far al-Mansur, Isa bin Musa bin Muhammad, dan Abdullah bin Ali memimpin gerakan di Kufah, Damaskus, Palestina, Yordania, dan daerah bagian barat wilayah Dinasti Umayyah.
Abu Muslim al-Khurasani segera memulai gerakan. Dengan  pandai, ia memanfaatkan pertentangan antara suku Arab Qaisy dan suku Arab Yamani yang sudah berlangsung sejak zaman Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pada masa itu, orang-orang Yaman mendapat dukungan yang baik di Khurasan. Hal itu disebabkan Gubernur Khurasan saat itu dari suku Arab Yamani, yaitu As’ad Abdullah al-Qasri. Sementara itu orang-orang suku Arab Qaisy disisihkan dari pemerintahan sehingga mereka tidak menyukai orang-orang Yaman. Sebaliknya, ketika Gubernur Khurasan dijabat oleh orang-orang Arab Qaisy, orang-orang Yaman disingkirkan.
Pada waktu Abu Muslim al-Khurasani memulai gerakanya, Gubernur Khurasan dijabat oleh Nasr bin Sayyar yang berasal dari suku Arab Qaisy. Abu Muslim al-Khurasani kenudian mendekati al-Kirmani, pemimpin Yamani di Khurasan. Dengan siasat adu domba, Gubernur Nasr bin Sayyar dapat digulingkan dan berhasil dikalahkan. Dengan bantuan orang Yaman pula, Abu Muslim al-Khurasani berhasil menduduki Kota Merv dan Nisabur.
Sementara itu, tentara Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Kahbata, seorang jenderal Abu Muslim al-Khurasani, maju kesebelah barat. Ia didampingi oleh Khalid bin Barmak, pendiri wangsat Barmakid. Mereka menyeberangi Sungai Eufrat dan sampai ke medan Karbala, tempat Husein bin Ali gugur dalam peperangan. Pertempuran dahsyatpun saat itu berkobar. Gubernur Dinasti Umayah di Irak bernama Yazid berhasil dikalahkan. Namun, Kahtaba gugur dalam pertempuran itu. Komando diambil alih oleh Hasan bin Kahtaba. Tentara Dinasti Umayyah akhirnya berhasil menguasai Kufah.
Di bagian timur, tentara Dinasti Abbasiyah terus bergerak maju. Pada tahun 749 M, putra khalifah Marwan II dikalahkan Abu Ayun, seorang panglima perang Dinasti Abbasiyah. Khalifah Marwan II akhirnya memimpin langsung usaha terakhir untuk mempertahankan Dinastinya. Ia mengerahkan 120000 tentaranya dari menyeberangi Sungai Trigis serta menuju Zab Hulu atau Zab Besar. Tentara Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Ali. Tentara Dinasti Umayyah berhasil dikalahkan. Marwan II melarikan diri dan Damaskus pun jatuh ke tangan Bani Abbasiyah. Marwan II diburu dari satu tempat ke tempat lain. Ia ditemukan di Mesir dan dibunuh di sana.
Abu Abbas as-Saffah kemudian dibaiat sebagai khalifah di Masjid Kufah pada tahun 130 H/750 M. Menurut para ahli sejarah, perpindahan kekhalifahan dari Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah lebih sekedar pergantian Dinasti. Kejadian itu merupakan Revolusi dalam sejarah Islam, yaitu suatu titik balik yang sama pentingya dengan Revolusi Prancis dan Revolusi Rusia dalam sejarah barat.
Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Berdirinya  pemerintahan ini dianggaap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh Bani Ali ( Alawiyun). Setelah  meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah saw. 
Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda, sebagai berikut[3]:
1.      Masa Abbbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya daulah Abbasiyah tahun 132 H (750 M) sampai meninggalnya Khalifah Al-Watsiq 232 H (847 M);
2.      Masa Abbbasiyah II, yaitu mulai Khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H (847 M) sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Bagdad tahun 334 H (946 M);
3.      Masa Abbbasiyah III, yaitu dari berdirinya daulah Buwaihiyah tahun 334 H (964 M) sampai masuknya kaum Seljuk ke Bagdad tahun 447 H (1055 M);
4.      Masa Abbbasiyah IV, yaitu masuknya orang-orang Seljuk ke Bagdad tahun 447 H (1055 M) sampai jatuhnya Bagdad ke tangan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H (1258 M).

Masa Dinasti Abbasiyah, terutama masa-masa pertama Al-Mansur, Ar-Rasyid, dan Al-Makmun adalah masa-masa keemasan peradaban islam[4]. Para khalifah agung tersebut ingin agar negara mereka berdiri di atas fonndasi kokoh ilmu agama dan ilmu dunia. Sebuah negara tidak akan maju tanpa ilmu pengetahuan. Ilmu adalah asal amal saleh dan fondasi kehidupan yang baik. Untuk hal inilah, kita bisa mendapatkan seorang khalifah seperti Al-Manhsur yang sangat menaruh perhatian terhadap ilmu agama dan ilmu dunia sekaligus.[5]
Perhatian Al-Manshur terhadap agama tidak bisa diragukan lagi. Dia adalah salah seorang tokohnya. Dia pernah berkata kepada Imam Malik bin Anas, “Ketahuilah, bahwa dalam hal ini, antara kita tidak ada yang tersisah. Dan ketahuilah, bahwasanya aku sibuk oleh urusan negara. Oleh karena itu, aku ingin engkau menulis kitab. Untuk kemudian kitab tersebut disebarkan secara merata kepada masyarakat.” Lalu , mata berkata, “Ajarkanlah kepadaku menulis buku.”

B.          Peradaban dan Pemikiran yang Berkembang Pada Masa Dinasti Abbasiyah

Pemikiran yang berkembang pada masa dynasti Abbasiyah, pada awalnya adalah Syiah. Mereka beranggapan yang berhak meneruskan kepemimpinan Islam Rasulullah saw adalah kerabat-kerabat Nabi Muhammad saw.  
Artinya: Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu Termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)[626] di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[626] Maksudnya: yang Jadi dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan kerabat, bukan hubungan persaudaraan keagamaan sebagaimana yang terjadi antara muhajirin dan anshar pada permulaan Islam.

Dan  menganggap bahwa pembaiatan Ali sebagai khlaifah yang boleh diangkat dengan landasan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib pernah berkata: “Kemarilah, Aku akan membai’atmu  sebagai khalifah dan tidak seorang pun berseberangan denganmu. Landasan yang lain adalah pernyataan Dawud bin Ali (paman Abu Abbas as-Saffah pada saat pembaiatan as-Saffah: “Wahai para penduduk Kufah, tidak lah terdapat seorang pemimpin yang berhak kalian taati  setelah Rasulullah saw,  kecuali Ali bin Abi Thalib dan yang berdiri ditengah-tengah kalian hari ini yaitu as-Saffah.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa terdapat dua kelompok yang menghendaki terjadinya perubahan system pemerintahan dengan mengembalikan hak kepemimpinan kepada mereka yang lebih berhak secara wasiat, adalah kelompok syi’ah dan Bani Abbasiyah. Selian itu dapat pula di temukan bahwa beridirinya daulah atau Dinasti Abbasiyah berkat kegigihan kedua kelompok tersebut dalam mengumpulkan seluruh kelompok untuk melakukan revolusi besar-besaran terhadap pemerintahan Dinasti Umawiyyah yang diawali dari Khurasan dan Irak hingga ke Kufah yang pada akhirnya keluarga Bani Umayyah lari ke Magrib kemudian ke Andalusia dan kemudian mendirikan kembali Dinasti Umayyah disana untuk menandingi Dinasti Abbasiyah di Kufah.
Di masa dinasti Abbasiyah juga terdapat, pemikiran yang semakin kritis terhadap ilmu-ilmu pengetahuan. Hal itu ditunjukan oleh pembangunan sebuah perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, di dalamnya orang dapat membaca, menulis, dan berdiskusi.
Lalu di masa dinasti Abbasiyah pula empat mazhab fiqih[6] tumbuh dan berkembang. Imam Abu Hanifah (meninggal di Baghdad tahun 150 H/776 M) adalah pendiri Mazhab Hanafi. Imam Maliki bin Anas banyak menulis hadist dan pendiri Mazhab Maliki (wafat di Madinah Tahun 179 H/795 M). Muhammad bin Idris Ash-Syafi’I (wafat di Mesir tahun 204 H/819 M) adalah pendiri Mazhab Syafi’i. Ahad bin Hambal (wafat tahun 241 H/855 M).
Selain tentang Mazhab-mazhab fiqih masih ada lagi ilmu-ilmu yang berkembang di masa dinasti Umayyah:
1.      Ilmu Hadist
a.      Imam Bukhari (194-256 H), karyanya Shahih Al-Bukhari;
b.      Imam muslim (wafat 261 H), karyanya Shahih Muslim;
c.      Ibnu Majah, (wafat 824-887 H), karyanya Sunah Ibnu Majah;
d.      Abu Dawud, karyanya sunah Abu Dawud..
2.      Ilmu Kalam
a.      Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Muhammad, tokoh Asy’ariyah;
b.      Washil bin Atha, Abul huzail Al-Allaf
3.      Ilmu Astronomi
A.    Abu Mansur Al-Falaki (wafat 272 H), karyanya yang terkenal adalah Isbat Al-Ulum dan Hayat Al-Falak;
B.     Jabir Al-Batani (wafat 319 H), karyanya yang paling terkenal adalah penciptaan teropong bintang pertama dan kitab Ma’rifat Mathiil Buruj Baina Arbai Al-Falak;
C.     Raihan Al-Bairuni (wafat 440 H), keryanya adalah At-Tafhim Awal As-Sina At-Tanjim
Dengan berkembangnya ilmu di atas sudah sewajarnya kita berpendapat pasti system pemerintahan dan hokum saat itu sangatlah baik. Seperti contoh Khalifah Harun Ar-Rasyid adalah khalifah yang kuat tegas, adil, dan cinta dengan ilmu. Maka sangat wajar jika di masa khalifah tersebut ilmu bisa berkembang dengan pesat.

C.          Warisan-warisan Dari Dinasti Abbasiyah dan Penyebab Runtuhnya Pemerintahan Dinasti Abbasiyah

Warisan-warisan dari Dinasti Abbasiyah untuk dunia cukup banyak seperti sebagai berikut:
1.      Kota Baghdad dan istanah-istanahnya yang megah;
2.      Terkembangnya ilmu-ilmu yang semakin maju hingga sekarang;
3.      Masjid-masjid yang dibangun atas perintah khalifa-khalifah dinasti Abbasiyah;
4.      Dan buku-buku karya ilmuan pada masa dinasti Abbasiyah yang menjadi refrensi ilmuan jaman sekarang.
Penyebab runtuhnya dinasti Abbasiyah[7]:
1.      Perasaingan antar bangsa;
2.      Kemrosotan ekonomi;
3.      Konflik keagamaan;
4.      Perang salib;
5.      Serangan bangsa mongol.


  

SIMPULAN

  
Dari  penjealasan di atas bisa penulis simpulkan bahwa:
1.      Dinasti Abbasiyah memerintah  kekhilafahan Islam dikarenakan dinasti Umayyah sudah lemah pemerintahanya ;
2.      Dua  kelompok yang menghendaki terjadinya perubahan system pemerintahan dengan mengembalikan hak kepemimpinan kepada mereka yang lebih berhak secara wasiat, adalah kelompok syi’ah dan Bani Abbasiyah;
3.      Pemikiran yang berkembang pada masa dynasti Abbasiyah, pada awalnya adalah Syiah. Mereka beranggapan yang berhak meneruskan kepemimpinan Islam Rasulullah saw adalah kerabat-kerabat Nabi Muhammad saw ;
4.      Warisan dinasti Abbasiyah adalah kota Baghdad, bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya, terkembangnya ilmu-ilmu hingga sekarang, dan buku-buku yang dijadikan refrensi para ilmuan  barat maupun timur;
5.      Pentebab runtuhnya dinasti Abbasiyah adalah pertentangan antar bangsa, ekonomi lemah, perang salib dan serangan tentara mongol.






[1] Darsono, Tonggak Sejarah Kebudyaan Islam, (Surakarta: Tiga Serangkai, 2004), hlm.17.
[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.139.
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Kencana, 2003), hlm.50.
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.145.
[5] Yusuf Al-qardawi, Distorsi Sejarah Islam, (Jakarta: Pustaka Al-kaustar, 2003),hlm.104.
[6] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.147.
[7] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2009), hlm.155.

Minggu, 13 Mei 2012

Sejarah Kerasulan Nabi Muhammad saw.


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Sejarah Kerosulan Nabi Muhammad SAW
Menjelang usianya yang keempat puluh, dia sudah terlalu biasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke gua Hira, beberapa kilometer diutara Mekkah. Disana Muhammad mula-mula berjam-jam kemudian berhari-hari bertafakur. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, Malaikat Jibril muncul dihadapannya,menyampaikan wahyu allah yang pertama: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Bacalah , dan Tuhanmu itu maha mulia.  Dia telah mengajar dengan Qalam.Dia telah mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui (QS 96: 1-5). Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih tuhan  sebagai nabi. Dalam wahyu pertama ini, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.
Setelah wahyu pertama itu datang, jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, sementara Nabi Muhammad metikanya dan selalu datang ke gua Hira’. Dalam keadaan menanti itulah turun wahyu yang membawa perintah kepadanya.[1] Wahyu itu sebagai berikut: Hai orang yang berselimut, bangun, dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkanlah perbuatan dosa, dan janganlah engkau  memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah (Al-Muddatstsir:1-7).
Dengan  turunnya perintah itu,mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama beliau melakukannya secara  diam-diam dilingkungnya sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Karena itu,orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya. Dengan dakwah secara diam-diam  ini, belasan orang telah memeluk agama Islam .
Setelah  beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual turunlah perintah agar nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Mula-mula ia mengundang dan menyeru karabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib.
Langkah dakwah seterusya yang diambil muhammad adalah menyeru masyarakat umum. Nabi mulai menyeru segenap lapisan masyarakat kepada Islam  dengan terang-terangan , baikgolongan bangsawan maupun hamba sahaya. Mula-mula ia menyeru penduduk mekkah, kemudian penduduk negri-negri lain. Isamping itu, ia juga menyeru orang-orang yang datang ke makkah, dari berbagai negri untuk mengajarkan haji. Kegiatan dakwah dijalankannya tnpa mengenal lelah. Dengan usahanya yang gigih hasil yang diharapkan mulai terlihat. Setelah dakwah terang-terangan itu pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah rosul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut nabi, semakin keras tantangan dilancarkan kaum Quraisy.[2] Banyak cara yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi Muhammad. Pertama-tama meraka mengira bahwa kekuasaan nabi terletak pada perlindungan dan pembelaan Abu Thalib yang amat disegan itu. Karena itu mereka menyusun siasat bagaimana melepaskan hubungan nabi dengan Abu Thalib.
Merasa gagal dengan cara lain, kaum Quraisy kemudian mengutus Walid ibn Mughirah dengan membawa Umarah ibn Walid, seseorang pemuda yang gagah dan tampan untuk dipertukarkan  dengan nabi Muhammad. Walid bin Mughirah berkata kepada Abu Thalib : “A mbillah dia menjadi nak saudara, tetapi serah kan nabi muhammad kepada kami untuk kami bunuh.” Usul ini langsung ditolak keras oleh Abu Thalib. Untuk kali berikutnya, mereka langsung kepada nabi muhammad. Mereka mengutus Utbah ibn Rabiah, seorang retorika untuk mmbujuk nabi. Mereka menawarkan tahta, wanita dan harta asal nabi muhammad bersedia menghentikan dakwahnya Semua tawaran itu ditolak muhammad. Setelah cara-cara diplomatikan dan bujuk rayu yang dilakukan oleh kaum Quraisy gagal, tindakan-tindakan kekasaran secara fisik yang sebelumnya sudah dilakukan semakin ditingkatkan.
Tindakan kekerasan itu lebih intensif dilaksanakan setelah mereka mengetahui bahwa dilingkungan rumah tangga mereka sendiri sudah ada yang masuk Islam . Para pemimpin Quraisy mengharuskan setiap keluarga untuk menyiksa anggota keluarganya yang masuk Islam  sampai dia murtad kembali.[3] Kekejaman yang dilakukan oleh penduduk mekkah terhadap keum Muslimin itu, mendorong Nabi Muhammad untuk menyusikan sahabat-sahabatnya kr luar mekkah. Pada tahun ke5 kerosulannya nabi menetapkan Habsyah (ethiopia) sebagai negri tempat pengungsian  karena negus (raja) negri itu adalah seorang yang adil. Ditengah  meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat  Quraisy masuk Islam ,Hamzah dan Umar ibn Khathab. Dengan masuk Islam  nya dua tokoh besar ini posisi umat Islam  semakin kuat.
Menguatnya posisi umat Islam  memperkeras reaksi kaum musyrik Quraisy . mereka menempuh cara baru dengan melumpuhkan kekuatan nabi muhammad yang bersandar pada lingkungan Bani Hasyim. Cara yang ditempuh ialah pemboikotan,tindakan pemboikotan yang mulai pada tahun ke7 kenabian ini berlangsung selama 3 tahun. Ini merupakan tindakan paling menyiksa dan melemahkan umat Islam . Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sungguh suatu tindakan yang keterlaluan. Setelah boikot diberhentikan, Bani Hasyim seakan dapat bernafas kembali dan pulang ke rumah masing-masing. Namun,tidak lama kemudian Abu Thalib,paman Nabi yang merupakan pelindung utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. 3 hari setelah itu khadijah istri nabi meninggal pula.peristiwa itu terjadi pada tahun ke10 kenabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi nabi muhammad Saw. Untuk menghibur nabi yang sedang ditimpa duka, allah mengisra’ dan memikrajkan beliau pada tahun ke10 kenabian itu. Berita tentang isra’ mikraj ini menggemparkan masyrakat mekkah. Bagi orang kafir, ia dijadikan bahan propaganda untuk mendustakan nabi. Sedangkan bagi orang yang beriman ia merupakan ujian keimanan. Setelah peristiwa isra’ mikraj suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam  muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yastrib yang berhaji ke mekkah.
Atas nama penduduk Yatsrib mereka meminta pada nabi agar berkenaan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela nabi muhammad dari segala ancaman. Nabi pun  menyetujui usul yang mereka ajukan. Perjanjian ini disebut perjanjian ‘aqabah kedua’.
      Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara nabi  dan orang-orang Yatsrib itu, mereka kian gila melancarkan intimidasi terhadap kaum muslimin.Hal ini membuat nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam perjalanan ke  yatsrib nabi ditemani oleh Abu Bakar. Ketika tiba diQuba, sebuah desa yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Yatsrib, nabi istirahat beberapa hari lamanya. Nabi menginap dirumah Kalsum bin Hindun. Dihalaman  rumah ini nabi membangun sebuah masjid. Inilah masjid pertama yang dibangun nabi sebagai pusat peribadatan. Tak lama kemudian,Ali menggabungkan diri dengan nabi, setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah. Sementara itu, penduduk Yatsrib menungu-nunggu kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Nabi memasuki Yatsrib  dan penduduk kota ini mengelu-elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak itu sebagai penghormatan  terhadap nabi nama kota Yatsrib diubah menjadi Madinatun Nabi (kota nabi) atau sering pula disebut Madinatul Munawwarah (kota yang bercahaya). Karena dari sanalah sinar Islam  memancarkan keseluruh dunia.[4]

B.     Pengertian Tasri` Makky dan Madany
Al-quran mulai turun ketika Rasulullah SAW berada di Mekkah, selama 13 tahun. Para ulama mengistilahkan ayat yang turun pada fase Mekkah dinamakan Makkiyah,dengan total nisbat secara keseluruhan 19-30 dari keseluruhan kandungan Al-quran.
 Al-quran terus-menerus turun setelah Rasulullah SAW, hijrah selama 10 tahun dan para ulama mengistilahkan fase ini dengan nama Madaniyah, dengan total nisbat secara keseluruhan 11-30 dari keseluruhan kandungan Al-quran. Sebagian ulama ada yang mendefinisikan sebagai, Ayat yang turun untuk penduduk Mekkah dinamakan Makkiyah dan ayat yang turun untuk penduduk Madinah dinamakan Madaniyah.[5]
Penetapan hukum (tasyri`) pada masa nabi terjadi pada dua tempat, yaitu seketika beliau di Mekkah dikenal tasryi` Makky dan sewaktu beliau di Madinah dikenal dengan Tasryi` Madany.
Tasyri Makky adalah penetapan hukum yang dilakukan nabi SAW selama beliau berada di Makkah, atau disebut periode Makkah,sementara Tasryi` Madany adalah penetapan hukum yang dilakukan Nabi selama beliau berada di Madinah, biasa disebut periode Madinah.[6]
Para sarjana muslim mengemukakan 4 perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyyah. Keempat perspektif itu adalah masa turun (zaman an-nuzul), tempat turun (makan an-nuzul), objek pembicaraan (mukhathab), dan tema pembicaraan (maudu`).[7] Mereka mendefinisikan perspektif tersebut sebagai berikut:
1.      Perspektif masa turun, Makkiyah ialah ayat-ayat yang ditrurunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Makkah. Madaniyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Makkah atau Arafah.
2.      Perspektif tempat turun, Makkiyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah. Sedangkan madaniyyah adalah ayat-ayat yang di turunkan di Madinah dan sekitarnya seperti, Uhud, Quba, dan Sul`a.
3.      Perspektif objek pembicaran, Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Makkah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Madinah.
Secara umumnya, Makki dan Madani ialah ilmu-ilmu yang membicarakan tentang ayat-ayat serta surah-surah yang diturunkan di Makkah dan di Madinah serta sekitarnya. Secara lebih khusus, ulama berbeda pendapat dalam membuat penentuan dan pengertian antara ayat-ayat Makki dan Madani.
Oleh itu ulama` membagikannya kepada 3 bagian yaitu, pembagian dari sudut masa, pembagian dari sudut tempat dan sebagian dari sudut tumpuhan penurunan[8]. Ketiga pembagian tersebut adalah:
1.   Pembagian dari sudut masa, ulama golongan ini mengatakan surah dan ayat yang diturunkan sebelum hijrah dinamakan ayat Makki, manakala surah serta ayat yang diturunkan selepas hijrah pula dinamakan ayat Madani.
2.   Pembagian dari sudut tempat, pendapat ulama golongan kedua mengatakan surah dan ayat yang diturunkan di Mekkah dikatakan ayat Makki dan ayat yang diturunkan di Madinah, adalah ayat Madani.
3.   Pembagian dari sudut penurunan, pendapat ulama golongan ketiga pula mengatakan ayat serta surat yang diturunkan dengan tujuan atau tumpuan atau kitab kepada penduduk Mekkah dikatakan ayat Makki, manakala ayat dan surat yang ditunjukkan atau kithab kepada penduduk Madinah.

A.    Perbedaan Tasry’ makky dan madany`
Telah ditemukan bahwa masa turunnya Al-qur’an itu ada dua yaitu masa sebelum hijrah dan masa sesudah hijrah. Bagi masing-masing makky dan madany mempunyai perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu adalah
1.      Ayat-ayat yang diturunkan di Makkah didahului dengan ya ayyuhan nas (hai orang-orang beriman) sedangkan ayat-ayat yang turun di Madinah didahului dengan kata-kata ya ayyuha llazi na amanu (hai orang-orang yang beriman).[9]
2.      Ayat-ayat yang turun di Mekkah sekarang terdapat dibagian belakang Al-qur’an,sedangkan ayat-ayat yang turun di Madinah dibagian belakang Al-qur’an.[10]
3.      Ayat-ayat Makkiyah biasanya pendek, berbeda dengan ayat Madaniyah yang sangat panjang sesuai dengan tabiat setiap fase. Pendeknya ayat-ayat Makkiyah agar mudah dihafal, disukai dan menceritakan surga dan neraka.
 Sedangkan panjangnya ayat Madaniyah sesuai dengan kebutuhan perundang-undangan secara lebih rinci dan panjang, apalagi   kaum muslimin sudah terbiasa dengan hafalan.[11]
4.      Setiap surat yang ada ayat sajdahnya maka termasuk surah Makkiyah kecuali Surat Al-Hajj, ia termasuk surat madaniyah menurut pendapat yang lebih kuat menurut para ulama.[12]
5.      Ayat-ayat Makiyah mengandung  tema kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sedangkan Madaniyah ayat-ayatnya mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik,kecuali surat Al-Ankabut: 29.[13]
6.      Ayat Makkiyah membahas tentang pembentukan akidah yang bersih,mengajak bertauhid kepadaAllah, menghilangkan kesyirikan,memberikan dalil tentang wujud Allah,membangun keimanan kepada malaikat,kitab suci, rasul dan hari akhirat selain mengajak kepada akhlak yang mulia dan meninggalkan perilaku tercela.[14] Sedangkan ayat Madaniyah lebih menitikberatkan pada aspek taklif (pembebanan) dan merincikan hukum-hukum,mengatur hubungan sesama manusia,menjelaskan aturan berkomunikasi yang baik, dan meletakkan prinsip keadilan dalam setiap aspek hubungan sosial.[15]

B.     Analisis Pengertian Tasyri’ Makky dan Madany
Menurut para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makkyah dan madaniyyah.
Keempat perspektif itu adalah:
·         Masa turun (zaman an-nuzul)
·         Tempat turun (masakan an-nuzul)
·         Objek pembicaraan (mukhathah)
·         Tema pembicaraan (maudu).

Sedangkan menurut secara umum makky dan madany adalah ilmu yang membicarakan tentang ayat-ayat serta surat-surat yang diturunkan dimekah dan dimadinah serta sekitarnya secara lebih khusus,ulama berbeda pendapat dalam membuat penentuan dan pengertian antara ayat-ayat makky dan madany.
Oleh karena itu para ulama membagi kepada 3 bagian diantaranya:
Ø  Pembagian dari sudut masa
Ø  Pembagian dari sudut tempat
Ø  Pembagian dari sudut tempat penurunan.

Munurut pendapat kelompok kempok kami sangat sependapat dengan para sarjana muslim yang mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makkiyah dan madaniyah diantaranya adalah:
v  Masa turun (zaman an-nuzul)
v  Tempat turun (masakan an-nuzul)
v  Objek pembicaraan (mukhathab)
v  Tema pembicaraan (maudu).

Walaupun pengertiannya hampir sama dengan pengertian menurut ulama yang membagi kepada 3 bagian tetapi para sarjana muslim memberi pengertian yang lebih jelas dan menyeluruh hingga membagi atau mendefinisikan menjadi 4 bagian.










BAB III
KESIMPULAN

                                                                          
1.      Masaturunnya Al-Qur`an ituterbagikedalamduamasayaitumasasebelumhijrah.
2.      TasyriperiodeMekkahterhitungsejak Muhammad SAW diangkatmenjadiRasul, yaitupadatahunke 40 darikelahirannyasampaibeliauhijrahkeMadinahbertepatandengantanggal 6 Agustus 610 M, selamalebihkurang 12 tahun 5 bulan 13 hari.
3.      TasyriperiodeMadinahberlangsungsejakhijrahRasulullah, darimekahhinggabeliauwafat, yaitutanggal 13 Rabi`ulAwaltahun, bertepatandengantanggal 8 Juni 632 H. Periodeiniberjalanselama 10 tahun, atautepatnya 9 tahun 9 bulandan 9 hari.
4.      TasyriMakkiadalahpenetapanhukum yang dilakukanNabi SAW selamaberada diMakkah,perundang-undanganhukumIslam padaperiodeinilebihfokuspadaupayamembersihkanakidahdanmenanamkanakhlakmulia.
5.      Tasyri` Madaniadalahpenetapanhukum yang dilakukanNabiselamabeliauberada di Madinah, perundang-undanganhukumIslam padaperiodeinimenitikberatkanpadaaspekhukum-hukumpartikaldandakwahIslam iyah.
6.      TerdapatbanyakperbedaanantaraTasyriMakkidanMadani, salahsatunyaadalahterdapatpadajumlahayat, untukTasyri` Makkibiasanyaayatnyapendek-pendeksedangkanuntukTasyri` Madanybiasanyaayatnyaselalupanjang-panjang. 










[1] Badri yatim, sejarah peradaban islam,( jakarta: Raja Grafindo Persada,1993). Hal 19
[2] Ibid, hal 20
[3]Ibid, hal 22
[4]Ibid, hal 25
[5]SyadHasanKholil, TarikhTasri (Jakarta:SinarGrafika Offset,2009) hal.142
[6][6]Tarmizi, TarikhTasyri`(STAIN:Metro,2011)hal.19
[7]Rosiban Anwar, Ulumul Qur`an (Bandung:PustakaSetia, 2000)hal.104
[8]www.anvira.com(diunduh 13 April 2012)
[9]Tarmizi, TarikhTasyri`(STAIN:Metro,2011)hal.23
[10]Ibid,hal.23
[11]SyadHasanKholil,TarikhTasyri`(Jakarta:SinarGrafika Offset,2009)hal.143
[12]Ibid, hal 144
[13]RosibanAnwar,Ulumul Qur`an(Bandung:Pustaka Setia,2000)hal.110-111
[14]Muhammad Zuhri,TerjemahTarikh  Al-Tasyri` Al-Islami(DarulIkhya)hal.29-30
[15]SyadHasanKholil,Tarikhtasyri`(Jakarta:SinarGrafika Offset,2009)hal.142
 
Blogger Templates